Surat Terakhir untuk Mira

Oleh Anugerah Perkasa
1.046 words

BAGAIMANA PERASAAN bila suami yang dituduh teroris, ditahan, tiba-tiba dikabarkan melarikan diri dari penjara yang membekapnya selama tiga tahun? Mungkin Mira Agustina punya jawabannya.

“Saya hanya ingin Amerika [Serikat] membawanya ke pengadilan bila dia bersalah,” ujar Mira, tegas.

Mira kelahiran Jakarta, tapi besar di Cisalada, Jawa Barat. Umurnya sekarang 27 tahun. Dia dikenal sebagai istri Umar al Farouq-gembong teroris yang diduga terlibat dalam pengeboman Natal 2000 di Jakarta.

Farouq juga disebut sebagai salah satu petinggi organisasi teroris internasional Al Qaeda di Asia Tenggara. Nama aslinya, menurut Mira, adalah Mahmud bin Ahmad Assegaf. Mira tak mengenal nama Al Farouq seperti yang dilekatkan pada suaminya itu.

Al Farouq alias Mahmud dikabarkan melarikan diri dari penjara Bagram di Afghanistan pada Juli. Berita ini disampaikan oleh International Commission for Red Cross (ICRC) pada Mira saat mendatangi perwakilan kantor tersebut di Jakarta, September lalu. Namun, dirinya tetap meyakini bahwa Mahmud tak pernah akan kembali ke Indonesia. Perempuan pemakai cadar itu juga tak mempercayai pemerintah AS soal suaminya: dia lolos atau diloloskan?

Tak ada yang berubah dalam Lebaran tahun ini bagi Mira. Mahmud tetap tiada di sisinya. Persis dua tahun silam. Al Gholia dan Al Hanun, masing-masing berusia lima dan empat tahun itu pun tak bertemu ayah tercintanya. Mereka kerap memanggil Mahmud dengan kata ‘Abi’.

Untuk urusan hidup, Mira tak berdiam diri. Dia menafkahi anak-anaknya dengan membuka warung yang menjual kue kering dan memberikan kredit untuk kerudung serta kain kepada tetangga sekitar.

Namun, pada 2003 usaha ini terhenti. Sejak tahun lalu hingga Agustus, dia dibayar oleh sepupunya untuk mengasuh anak-anaknya di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur.

Berita lolosnya Mahmud bikin heboh. Di hari kedua Lebaran pekan lalu, Mira datang ke dua stasiun televisi yang mengundangya untuk wawancara. Ada Anteve di Kuningan Jakarta Pusat dan Metro TV di Kedoya Jakarta Barat. Keduanya menanyakan hal yang sama, larinya Mahmud dari Bagram, Afghanistan.

“Pertama, saya mendapat telepon di telepon seluler saya, yang mengabarkan suami saya meninggal,” ujar Mira siang itu pada program Cakrawala di Anteve.

Tapi dia tak percaya itu. Nomor telepon itu tak terbaca di layar dan langsung ditutup setelah menyampaikan kabar tersebut. Hingga kemudian dia menghubungi kantor ICRC yang memberikan surat terakhir Mahmud kepadanya. Surat itu tertanggal Juni tapi disampaikan oleh ICRC awal September.

Menurut Mira, Mahmud juga mengirimkan surat kepadanya April. Isinya seperti biasa, menyatakan keadaannya dalam kondisi baik dan tetap menyuruh kedua anaknya untuk shalat dan membaca Al Quran. Namun, dia curiga pada surat terakhir. Mengapa jenis tulisan suaminya berbeda?

Keanehan lain, kata Mira, terletak dalam paragraf terakhir di mana Mahmud selalu mengirimkan salam kepada keluarga besarnya. Kalimat itu sirna. Dalam dua wawancara pekan lalu, Gholia dan Hanun pun serta- merta diajak. Tangan-tangan kecil mereka terkadang memainkan kertas-kertas di meja studio.

“Abi lagi di Amerika,” ujar Gholia, dengan celatnya.

Adiknya, Hanun terus merengek minta turun dari pangkuan Mira di studio Metro TV yang dingin. Virgie Baker, yang mewawancarai Mira tersenyum geli.

Tanggapan pun muncul beragam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan kejadian ini membuat Indonesia akan lebih bersikap waspada lagi akan bahaya terorisme. “Tentu saja kita akan meningkatkan kerja keras memerangi terorisme,” ujar Yudhoyono di sela-sela acara open house di rumahnya, Cikeas, Bogor.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Agung Laksono mengungkapkan kecurigaannya terhadap lolosnya al Farouq dari penjara super ketat itu. Menurut dia, apakah pelepasan itu disengaja atau tidak, belum diketahui pasti. Yang jelas, ujar Agung, bila Farouq lari ke Indonesia, maka pekerjaan pemerintah akan semakin menumpuk. Dia ingin klarifikasi dari pemerintahan Bush soal ini.

Pengacara Mira Agustina, Eggy Sudjana, mengatakan Mira mengabarkan perihal lolosnya Mahmud kepadanya Oktober lalu. Ini alasan teknis saja. Menurut dia, Mira tak punya uang berlebih untuk mendatanginya ke Jakarta usai dia menerima surat suaminya itu. Surat Mahmud, kata Eggy, dikirimkan dari Afghanistan.

Eggy mengungkapkan Mira pada tiga tahun silam sudah melapor ke pihak imigrasi untuk menanyakan mengapa Mahmud alias al Farouq begitu mudah dilepaskan untuk diperiksa oleh pemerintah Amerika. Dia menduga ada skenario besar oleh pemerintahan Bush.

“Seharusnya juga Departemen Luar Negeri dapat memberikan pelayanan perlindungan kepada Mahmud sebagai warga negara, terlepas dari dia teroris atau bukan,” ujarnya pekan lalu.

Seperti yang diungkapkan Mira, dirinya menikah dengan Mahmud pada 1999. Mahmud mengaku orang Ambon keturunan Arab. Orangtuanya meninggal, dan kemudian diadopsi oleh keluarga Kuwait. Mahmud, ujar Mira, rajin membaca Al Quran dan sering pergi ke masjid untuk shalat bersama. Menurut Mira, Mahmud berbahasa Indonesia dengan logat Ambon.

Pada 2002, Mahmud alias al Farouq mengaku kepada dinas intelijen AS (CIA) bahwa dirinya mengenal Abu Bakar Ba’asyir sebagai salah satu petinggi Jemaah Islamiah. Aksi peledakan maupun agenda teror lainnya pun disokong dari Ba’asyir yang mendapatkannya dari Osama bin Laden, pemimpin puncak Al Qaeda.

Seperti yang dilansir oleh The Straits Times, pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu mendapatkan uang US$133.400 atau Rp1,2 miliar lebih. Mahmud juga diduga merencanakan pembunuhan kepada Presiden Megawati pada 1999 dan 2001-bersama-sama dengan Ba’asyir.

“Itu tidak benar. Uang itu juga tidak terbukti di pengadilan,” ujar Fauzan al Anshari, Ketua Pusat Data dan Informasi MMI. Menurut dia, justru Ba’asyir saat ini menjadi tersangka dalam kasus pemalsuan dokumen untuk bepergian ke luar negeri, bukan sebagai teroris seperti yang dituduhkan selama ini.

Fauzan mengatakan seharusnya pemerintah, dalam hal ini pihak kepolisian, berani mendatangkan Al Farouq untuk dikonfrontasi dengan Ba’asyir yang divonis penjara 2,5 tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Maret lalu. Pengasuh pondok pesantren Al Mukmin-yang dikenal dengan Ngruki itu-minta kasasi namun akhirnya ditolak. Fauzan mengatakan Ba’asyir tak kenal al Farouq.

Lolosnya Al Farouq, lanjut dia, hanyalah sebuah skenario untuk menciptakan teror baru di Indonesia. Kemungkinan bila terjadi kembali peledakan di Indonesia, bukanlah Dr Azahari Husin ataupun Nurdin Mohammad Top yang dicari, melainkan Al Farouq. “Ini jelas sekali,” ujarnya.

Diketahui, Azahari dan Nurdin Top disebut-sebut sebagai otak peledakan bom Bali 2002 dan Hotel JW Marriot setahun sesudahnya. Keduanya asal Malaysia dan terlibat dalam organisasi teroris Jemaah Islamiah yang sampai saat ini masih menjadi buronan.

Menurut Fauzan, lolosnya al Faruq tak masuk di akal. Mengapa seorang teroris yang dipenjara dengan penjagaan luar biasa dapat melepaskan diri?

Pertanyaan demi pertanyaan belum bisa dijawab. Pemerintah AS pun belum mengeluarkan pernyataan resminya soal ini. Kali ini tak hanya dunia internasional yang menunggu kabar di mana gerangan al Farouq, tapi Mira beserta dua anaknya yang mungil dan menggemaskan itu pun berbuat serupa. Dia tetap menunggu Mahmud di Cisalada.

“Bila ke Indonesia, pasti dia akan mencari saya.” (anugerah.perkasa@bisnis.co.id)

Leave a comment

Filed under CORRUPTION, HUMAN RIGHTS, POLITICS, TERRORISM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s