Shanghai di Mata Wen

Oleh Anugerah Perkasa
1.042 words

HUJAN MULAI meninggalkan jejaknya di Shanghai pagi itu. Jalanan yang basah dan dingin. Kabut pun membuat semuanya terlihat gelap dan abu-abu. Saat itu pukul 07.00 lebih waktu Shanghai atau 1 jam lebih cepat dibandingkan dengan waktu Jakarta. Saya dan 14 wartawan Jakarta lainnya baru saja tiba di kota itu untuk sebuah undangan the Hewlett Packard (HP) Global Influencer Summit 2012 pada 9 Mei-10 Mei 2012. Ini adalah pameran plus penjelasan kepada sekitar 400 wartawan di pelbagai negara tentang produk mutakhir yang diluncurkan perusahaan teknologi tersebut. Kami juga ditemani Theresia Ellytasari, Marketing Director Personal System Group HP Indonesia. Bis pun mulai berangkat perlahan-lahan.

Kami bertemu pemandu wisata Xu Lu Wen—asal Shanghai serta cukup mahir berbahasa Indonesia—di dalam angkutan tersebut. Dia mempelajari bahasa di Universitas Peking, Beijing selama 8 bulan dan menjadi pemandu wisata setelahnya. Pekerjaan tersebut sudah ditekuninya selama 5 tahun. Dia meminta kami memanggilnya Mila—dari Xu Mila—nama yang diberikan guru bahasanya. Perempuan itu memakai jaket merah muda dan berkaos putih. Bercelana jeans biru serta memakai sepatu jenis sneakers. Mukanya cenderung oval. Rambut lurusnya tak lebih sebahu.

“Jika di Beijing, Anda akan melihat Tembok China, maka di Shanghai  Anda akan lebih banyak melihat kepala,” ujar Xu sambil bergurau, kepada kami. “Terlalu banyak orang di sini. Kini jumlahnya mencapai sekitar 24 juta orang.”

Xu mulai bercerita soal-soal perkotaan di tempat dengan populasi terbesar di China itu. Pembangunan infrastruktur di bidang transportasi. Gedung-gedung bertingkat tinggi di kawasan New Shanghai hingga mahalnya unit apartemen di perkotaan.  Tentunya, harga tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah pinggiran. Saya memang melihat pembangunan di mana-mana. Jalan layang. Tiang beserta rel transportasi publik—berbeda dengan mass rapid transportation di Jakarta yang baru dibangun tiang penopangnya di kawasan Senayan—tengah dalam proses penyelesaian. Ada bis-bis tua. Sejumlah penumpang berdesakan. Sepeda motor lalu-lalang. Cerita Xu pagi itu  juga merefleksikan pengalaman perempuan di kota tersebut: betapa kompleksnya masalah saat ingin menikah.

“Perempuan yang ingin dinikahi biasaya akan tanya lebih dulu, apakah laki-laki punya rumah atau tidak,” ujarnya. “Tak hanya itu, mereka juga akan tanya kalau punya rumah, di pinggir kota atau di tengah kota.”

Saya tersenyum getir. Yang lainnya tertawa kecil. Xu menjelaskan harga per meter persegi untuk apartemen di tengah-tengah kota sudah mencapai sekitar ¥50.000 atau lebih kurang Rp72 juta. Sedangkan di pinggiran kota, lebih murah,—hitung-hitungannya, ¥1  adalah sama dengan sekitar Rp1.4oo—yakni ¥12.000 atau sekitar Rp17 juta lebih. Dia juga menambahkan sulit sekali bertahan jika hanya suami yang bekerja. Istri pun dituntut bekerja demi dukungan finansial. Masalah perumahan, saya kira, menjadi persoalan umum kota besar macam Shanghai.

Walaupun terbilang mahal, tetapi pertumbuhan harga properti mewah di kota itu sebenarnya mengalami perlambatan. Riset Knight Frank bertajuk Prime Global Cities Index pada 2011 menyebutkan  laju pertumbuhan tahunan harga properti mewah untuk 23 kota dunia—termasuk Shanghai—pada tahun lalu hanya mencapai sekitar  3%,  dengan terjadinya perlambatan sejak pertengahan tahun. Sedangkan pada triwulan terakhir atau periode Oktober—Desember, harga hanya mengalami kenaikan rata-rata yakni sebesar 0,2%. Laporan itu juga mengungkapkan benua Asia bahkan mengalami penurunan harga terbesar selama tahun lalu sebesar -1% dibandingkan benua lainnya di dunia. Tetapi saya kira, Xu tak ambil pusing soal riset tersebut. Dia tetap saja memberitahukan kepada kami betapa sulitnya mencari hunian yang terjangkau ketika ingin berkeluarga.

Shanghai, mungkin seperti kota besar lainnya, menghadirkan dua kontradiksi bersamaan: pertumbuhan sekaligus menyebarnya kemiskinan.

Pada Mei 2011, laporan bersama oleh the United Nations Development Programme (UNDP) dan the International Poverty Reduction Centre in China (IPRCC) bertajuk Policy Study on the Challenges and Responses to Poverty Reduction in China’s New Stage, memaparkan bahwa China  tengah mengalami kemiskinan transisional terkait dengan integrasi wilayah perkotaan—pedesaan. Proses migrasi ini sudah terjadi selama 30 tahun terakhir di negara tersebut. Walaupun negara itu terus bekerja keras mengentaskan kemiskinan, namun upaya itu belum lagi cukup. China, demikian rapor tersebut, mengalami sejumlah tantangan terutama imbas terhadap kelompok-kelompok rentan akibat urbanisasi besar-besaran. Kelompok itu terdiri dari pekerja migran, petani tak bertanah serta kelompok tertinggal: lanjut usia, perempuan dan anak-anak. Kemiskinan transisional sendiri bersifat multidimensional dan lebih banyak disebabkan oleh kebijakan pemerintah.

UNDP dan IPRCC menyatakan kelompok rentan akan terus berisiko  mengalami proses pemiskinan. Contohnya adalah pekerja migran—dari desa kemudian bekerja ke kota—yang tak memiliki jaminan memadai untuk kecelakaan kerja, perlindungan sakit hingga pensiun. Untuk para petani, mereka tak memiliki akses yang adil untuk keuntungan tanah dan tak dilindungi sistem keamanan sosial. Sedangkan kelompok tertinggal, yakni anak-anak dan orangtua— yang membutuhkan perhatian dari keluarga serta perempuan yang bekerja informal—dikhawatirkan tak mendapatkan perlindungan atas hak dan kepentingan mereka secara baik.

“Kelompok-kelompok rentan di China diperkirakan akan mencapai 330 juta, yakni terdiri 150 juta pekerja migran, 50 juta petani yang tak bertanah, serta 130 juta populasi kelompok tertinggal,” demikian laporan tersebut. “Jumlah itu akan meningkat pada tahun-tahun mendatang.”

Penelitian tersebut juga menyimpulkan kemiskinan terutama pada perempuan, sangat fatal. Menurut dua organisasi itu, baik perempuan yang bekerja migran maupun termasuk dalam kelompok tertinggal, akan menghadapi masalah lebih banyak terkait dengan kemiskinan. Ini adalah soal tercerabutnya hak-hak mereka, kesehatan mental, kesulitan dalam keseharian, sanitasi hingga kesehatan. Rapor itu menulis, perhatian khusus menyangkut perempuan sangat diperlukan karena terkait dengan soal kemiskinan antar generasi.

“Upaya pengentasan kemiskinan perlu diarahkan pada orang-orang yang terbelakang,” kata Renata Lok-Dessallien, Resident Representative UNDP di China dalam laporan tersebut. “Ini termasuk kelompok lanjut usia, etnik minoritas, pekerja migran serta orang-orang yang hidup di area terpencil.”

Tak terasa, bus kami pun perlahan memasuki area parkir dekat Taman Yuyuan—yang dibangun pada 1559 atau sekitar lebih dari 400 tahun lalu—di kawasan Old Shanghai.

Ada peminta-minta tua yang mendekat di halaman parkir. Ada pula penjual eceran sepatu roda plastik. Rumah-rumah kumuh dan terawat bercampur, di bawah pemandangan gedung pencakar langit. Di dalam taman Yuyuan, saya memperhatikan bangunan-bangunan tua yang dibangun sejak Dinasti Ming itu. Ini macam Hall Sansui atau Yuhua. Ada pula pohon Ginko Biloba berumur ratusan tahun. Kolam-kolam ikan di sepanjang jalan. Pahatan batu yang artistik.  Kami mulai berpencar setelahnya. Sebagian besar berbelanja. Sedangkan saya lebih banyak duduk mengamati orang lalu-lalang di belakang toko Shanghai Story. Bagaimana dengan Xu Lu Wen, sang pemandu wisata kami? Dia asyik berbincang dengan koleganya, sambil menikmati minuman di Starbucks Coffee.

Di Shanghai, saya tak hanya memperhatikan sudut pandang Xu mengenai kotanya. Tetapi ikut merasakan, arus modernisasi sekaligus kemiskinan, saling bertautan.

Leave a comment

Filed under URBAN ISSUES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s