Menelusuri Konflik Aset Keluarga Tanoto

Oleh Anugerah Perkasa
2.584 words

 

Bisnis Indonesia

I.

JUMAT SORE ITU tak pernah dilupakan Wendy Tanoto. Bersama keluarganya, dia menunggu papanya, Polar Yanto Tanoto untuk makan malam. Ada saudaranya Lina, James dan Katherine. Wendy saat itu berusia 6 tahun. Namun, kabar yang diterima mamanya, Barbara Huang, sungguh mengejutkan. Sang papa tewas dalam kecelakaan pesawat GA 152 jurusan Jakarta—Medan.

Peristiwa tersebut terjadi pada 26 September 1997, dan menewaskan 200 lebih penumpang dan belasan awak pesawat. Selama hampir 17 tahun, semua kenangan haru tersebut tak lekang oleh waktu.

“Saya masih ingat jelas hari ketika mendengar berita itu. Itu Jumat sore biasa, ketika anak-anak mengharapkan ayahnya bergabung untuk makan malam pada pukul enam,” kata Wendy.

Kecelakaan tersebut bukan saja sebuah kehilangan besar bagi keluarga Wendy namun juga mengawali sebuah sengketa bisnis keluarga Tanoto, karena Polar Tanoto adalah adik dari Sukanto Tanoto—Tanoto bersaudara berjumlah tujuh orang. Keduanya bekerja sama saat Radja Garuda Mas (RGM) International Corporation, yang mulanya bergerak pada pengolahan kayu lapis, didirikan Sukanto pada 1967. Grup bisnis itu kelak mengubah namanya menjadi Royal Golden Eagle (RGE) pada 2009 dengan terus mengembangkan bisnis pada pengelolaan sumber daya alam. Ini macam bisnis kertas, Indorayon pada 1988 hingga  Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) pada 1994. Bisnis lainnya juga menyangkut kelapa sawit serta minyak dan gas.

Di sisi lain, Sukanto bersama istrinya, Tinah Bingei resmi mendirikan Tanoto Foundation pada 2001 untuk membantu masyarakat memperoleh akses pendidikan lebih baik. Dalam perjalanannya, Sukanto kini menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai US$2,3 miliar versi majalah Forbes pada tahun lalu. Dalam situs resmi Tanoto Foundation, terlihat foto Sukanto yang seringkali didampingi istrinya dalam pelbagai aktivitas bantuan pendidikan.

Namun, masalah bergulir setelah kematian Polar. Hingga hari ini.

“Mama menyadari keadaan mulai tidak baik saat Sukanto memintanya menandatangani pengalihan harta ayah saya ke dia, seminggu setelah pemakaman,” kata Wendy. “Serangan pribadi, penghinaan dan ancaman kematian mulai datang, ketika mama menolak menandatangani.”

Wendy dan keluarganya akhirnya memutuskan pindah ke Taiwan. Di sana, dia dibantu pamannya, Ye Chin Huang dan nenek dari pihak ibunya, Song Tau Huang. Mulai dari tempat tinggal hingga dukungan finansial. Namun, kegiatan Sukanto tak berhenti sampai di sana. Dia juga diduga memaksa Barbara untuk menyerahkan kunci rumah mereka di kawasan Polonia, Medan. Mengirimkan orang untuk mengambil komputer Polar di ruang kerjanya. Meminta Barbara untuk menandatangani dokumen tanpa keterangan yang jelas. Terakhir, memblokir akses asuransi keluarga. Pada pertengahan Desember 1997, Barbara pun menulis surat ke saudara iparanya tersebut. Sepuluh lembar surat itu ditulis dalam bahasa Mandarin. Di dalamnya dipaparkan, Barbara dan Sukanto pernah bertemu di Singapura pada 16 November.

“Namun alih-alih menghibur, kamu justru menghardikku dengan kata-kata kasar dan tuduhan yang menghancurkan hati,” demikian Barbara dalam sebuah surat dalam bahasa Mandarin kepada iparnya. “Aku menangis setiap kali berpikir tentang kata-kata yang kamu katakan. Berpikir bahwa Polar tidak akan pernah mengatakan hal-hal seperti itu kepadaku.”

Dia juga mengatakan dirinya bingung bagaimana hidup ke depan mereka dengan empat anak dalam asuhannya. Barbara mengungkapkan keheranannya terhadap perilaku Sukanto usai kematian saudaranya. Dari kata-kata yang kasar hingga mengambil akta pernikahan sejak 1986 dengan Polar. Dia mempertanyakan apakah sikap itu dilakukan Sukanto terhadap perempuan yang baru saja kehilangan suaminya.

Dan, krisis lainnya pun mengguncang mereka pada 1998.

Di Jakarta, terjadi gelombang demonstrasi untuk melawan kekuasaan otoriter Presiden Soeharto selama 32 tahun. Kelompok mahasiswa dan sipil saling membahu agar sang presiden turun dari jabatannya. Ada kerusuhan. Penculikan. Penembakan. Krisis moneter. Hantaman ekonomi itu juga dirasakan keluarga Polar Tanoto, dalam bentuk berbeda. Barbara tak bisa menarik uangnya di rekening Unibank, rekening yang biasa digunakan Polar untuk membiayai keluarga, sebelum meninggal. Awalnya, sekretaris perusahaan memberitahukan Barbara bahwa perusahaan telah menerima uang asuransi dan akan ditransfer ke rekening personalnya. Namun akhirnya, uang itu tak akan pernah diterima karena kantor pusat juga telah memblokirnya.

“Mama memutuskan untuk menghubungi Sukanto. Namun, bukannya menemui mama, dia mengirimkan Suryani Zaini, salah satu penasehat legalnya,” tulis Wendy dalam blog pribadinya www.sukantotanoto.co. “Namun, dia tidak dapat mentransfer uang asuransi tersebut ke rekening, kecuali mama menandatangi suatu dokumen.”

“Mama memberitahu jika Sukanto tetap melanjutkan permasalahan ini, dia akan mencari penasehat hukum di Singapura,” lanjutnya. “Suryani mengatakan itu tidak akan berhasil karena Sukanto sangat berkuasa dan memiliki pengaruh penting, bahkan di Singapura.”

Barbara kemudian diminta untuk menandatangani surat kuasa untuk mewakili tiga orang, yaitu Haw Suwandi, Mahidin Jaya, dan Hartono Tunawijaya. Namun Suryani tidak memberitahukan tujuan untuk apa perwakilan tersebut. Meskipun soal surat itu terjadi pada awal 1998, namun tanggal yang tercantum pada dokumen diduga ditulis pada 24 Oktober 1997. Dengan melihat upaya pemalsuan tersebut, Barbara akhirnya tak pernah menandatanganinya. Pada tahun yang sama, Barbara berusaha mendapatkan warisan rumah mereka di kawasan Polonia. Namun, proses itu tak bisa dilakukan.

Alih-alih mendapatkan haknya, Sukanto justru mengirimkan notaris Linda Herawati agar ibu empat anak tersebut menandatangani surat deklarasi. Isinya adalah properti Polar akan diserahkan, jika Barbara setuju seluruh saham milik Polar diserahkan untuk Sukanto. Upaya untuk mendapatkan warisan rumah itu berlanjut pada 2002 dan 2007. Namun, semuanya nihil.

“Sertifikat berikut ini…akan diserahkan kepada Barbara Tanoto Huang setelah menandatangani seluruh dokumen dan sertifikat,” demikian petikan surat tersebut pada 1998. “Seperti yang disyaratkan dalam proses perubahan saham dari almarhum Polar Yanto Tanoto ke pihak lain yang ditunjuk Sukanto Tanoto.”

 

II

MASALAH YANG DIALAMI  Wendy dan keluarganya, tentu menjadi perhatian, minimal untuk saya pribadi. Sejak 2012, saya menulis masalah PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) terkait dengan konflik lahan antara perusahaan tersebut dengan para petani di Pulau Padang. Ini adalah daerah yang terletak di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. RAPP adalah perusahaan kertas di bawah kendali APRIL, milik Sukanto. Dari sana saya mengenal aktivis Muhammad Ridwan, yang kini dipenjara terkait dengan demonstrasi dan dugaan kekerasan menentang operasi RAPP pada 2010. Ridwan melakukan aksi ekstrim sepanjang 2011—2013: menjahit mulut hingga rencana bakar diri untuk melawan perusahaan itu. Soal APRIL pula yang membuat saya berkenalan dengan Wendy, melalui situs jaringan profesional Linkedin, pada Mei. Kami pun berdiskusi melalui kotak pesan media sosial hingga menggunakan Skype.

“Bagaimana kamu memanggil Sukanto?” kata saya.

“Saya memanggilnya da buo, yang berarti paman dalam bahasa Mandarin,” papar Wendy.

“Istri Sukanto?”

Du buo mu, bibi tertua.”

“Bagaimana mama, memanggil Sukanto?”

Da ke, artinya kakak.”

Melalui Wendy pula, saya mengetahui hubungan Polar dan Sukanto sangat akrab. Polar adalah satu-satunya dalam keluarga Tanoto, yang menjadi mitra bisnis Sukanto. Hal itu tak dilakukan pada saudara lainnya: Sugianto Tanoto, Hermanto Tanoto, Hendrawan Tanoto, Rudy Santoso Tanoto, dan Suyono Santoto Tanoto. Semuanya kini tinggal terpisah. Dari Indonesia, Singapura hingga Amerika Serikat.

Hubungan istimewa Polar dan Sukanto membuat Wendy kecil sering pergi liburan bersama dengan sepupunya, anak-anak Sukanto: Andre, Imelda, Belinda dan Anderson. Ke Afrika Selatan, China dan Kanada.

Dari blog pribadinya, saya melihat foto usang bersama Sukanto dengan Tinah, menghadiri pernikahan Polar dan Barbara di Medan Plaza. Polar memakai setelan jas biru berwarna gelap, sedangkan Barbara dalam gaun pengantin warna putih. Sukanto saat itu memakai jas biru, sedangkan istrinya, dalam balutan hijau tua. Foto pesta perkawinan juga dilakukan di rumah Polonia, demikian Wendy menyebut rumah masa kecilnya.

“Bagaimana hubungan kamu dengan paman-paman lainnya?” tanya saya.

“Awalnya mereka sangat mendukung,” balasnya. “Bahkan paman keempat, Hermanto sempat memukul Sukanto, karena mengkhianati papa.Tapi Sukanto memberikan sejumlah uang agar tak semuanya mencampuri urusan kami.”

Di balik persoalan keluarga, Wendy dan ketiga saudara kandungnya sempat bersekolah menengah di Massachussets dan Oregon, sepanjang 2006—2009 atas biaya Sukanto. Ini pun setelah ibunya bolak-balik memohon ke kakak iparnya itu agar mereka dapat bersekolah di Amerika Serikat untuk belajar bahasa Inggris. Mereka dibiayai melalui Tanoto Foundation. Tetapi, bukan berarti tanpa syarat. Sukanto tetap saja meminta para keponakannya—dalam setiap liburan musim panas— itu untuk menandatangani sejumlah dokumen penyerahan properti milik Polar untuk perusahaan. Permintaan itu ditolak.

Walaupun sempat ke Amerika Serikat, keluarga kecil itu lebih banyak tinggal di Taiwan sepanjang 17 tahun terakhir. Wendy pun tumbuh menjadi gadis remaja yang manis. Kulitnya kuning dengan rambut hitam sebahu. Kejadian demi kejadian sepanjang hidupnya membuat dirinya lebih dekat dengan sang mama. Mereka pun punya foto berdua.

Pada tahun lalu, Wendy mulai bekerja sebagai pengembang web bersama dengan teman-temannya, salah satunya dengan membangun ragam platform dan aplikasi khusus. Dalam satu perbincangan, saya menanyakan apa yang sebenarnya diinginkannya dalam masalah ini.

“Yang saya inginkan adalah soal transparansi,” kata dia. “Dengan membuka cerita dan fakta, saya mengharapkan masyarakat akan mengerti bagaimana permainan yang tengah dimainkan Sukanto.”

Wendy pun bergerak. Membuat blog. Membikin halaman khusus Facebook dan akun Twitter. Ada pula petisi Change.org yang ditulis oleh Richard Ameri—seorang kenalannya, untuk meminta Wharton School dari Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat tak menerima dana dan memberikan penghargaan terhadap Sukanto.

Pada 2012, sekolah itu mengganjar taipan tersebut—yang mengikuti Wharton Fellow Program pada 2001— dengan penghargaan Wharton’s School Dean. Petisi itu digalang karena APRIL dinilai menghancurkan hutan hujan untuk menanam pohon akasia, bahan baku bubur kertas di Riau. Pelbagai laporan soal kerusakan hutan, lahan gambut yang dilakukan grup bisnis itu termuat di dalam organisasi lingkungan dalam skop regional hingga internasional. Mulai dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) hingga Greenpeace.

“Hutan hujan adalah rumah bagi komunitas agrikulutral yang memproses produk mereka secara tradisional dan berkelanjutan,” kata Ameri dalam surat petisi tersebut. “Penanaman [akasia] mengancam para petani akan tergusur dari lahannya dan menghancurkan kehidupan mereka.”

APRIL pun memberikan responsnya.

Dalam satu surat elektronik internal perusahaan menjelang akhir Juni, pihak manajemen membantah apa yang disampaikan Wendy secara terbuka melalui blognya. Salah satu yang diungkap adalah soal bagaimana Sukanto telah menyekolahkan keempat keponakannya itu di Amerika Serikat pada 2006—2009. Selain itu, demikian surat tersebut, telah ada penyelesaian hukum yang dibuat pada 2002 atas tuntutan Barbara sejak 1997.

“Saat itu merupakan masa yang sangat sulit bagi Bapak Sukanto, yang tidak hanya harus berhadapan dengan kondisi keuangan perusahaan namun juga kehilangan adiknya,” tulis APRIL. “Meskipun telah ada penyelesaian hukum, Barbara terus melakukan tuduhan-tuduhan yang tidak benar.”

“Konteks penyelesaian keluarga adalah bukan konteks publik, karena tidak sesuai,” kata Anderson Tanoto, anak bungsu Sukanto-Tinah, dalam klarifikasi yang dipaparkan di kantornya, kawasan Teluk Betung, Jakarta Pusat. “Dari sisi keluarga, ada kemauan untuk [menyelesaikan] masalah itu lebih privat.”

Dia menuturkan jika keluarga Barbara Tanoto, janda mendiang Polar, membutuhkan bantuan, maka dapat mendatangi pihak Sukanto, dan bukan membeberkannya di media maupun menuliskan masalah tersebut di blog.

 

III

RESPONS DARI PERUSAHAAN itulah menggiring Wendy menjelaskan tentang Paddington Investment Trust, yang didirikan ayahnya pada 1994 di Jersey Island. Perusahaan investasi itu juga terkait dengan rencana penawaran saham perdana publik APRIL di New York Stock Exchange (NYSE) kelak pada 1995. Khusus masalah ini, Polar dan Sukanto melibatkan Mimi Hutton dari firma hukum Bryan Cave LLP, Hong Kong untuk mengatur kepemilikan saham mereka di dalam sejumlah trust. Baik Polar dan Sukanto menunjuk mereka masing-masing sebagai komite manajemen.

Saya membaca surat korespondensi dua pengacara pada firma hukum tersebut, tertanggal September dan Oktober 1994. Ini dilakukan antara Michael Morgan dengan Mimi Hutton. Salah satu permintaan yang sempat muncul oleh klien mereka, Tanoto bersaudara, adalah kontrol atas perusahaan namun nama keduanya tak muncul dalam dokumen pada The U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), otoritas pasar modal di Amerika Serikat. Dalam surat pada Oktober, Hutton melampirkan draf perjanjian yang menjadi model kepemilikan enam trust, dengan jumlah tiga masing-masing adalah milik Sukanto dan Polar. APRIL pun melakukan penawaran umum terbatas pada 1998.

Inilah yang memicu masalah dan bukan dianggap penyelesaian, macam yang disampaikan surat internal APRIL. Wendy menuduh pamannya membuat hutang palsu Direct Holdings Limited—milik Paddington Investment Trust bentukan Polar— yang berbasis di Bahamas sekaligus pemilik sejumlah saham APRIL, dalam aksi penawaran saham umum terbatas tersebut. Direct Holdings membeli lebih banyak saham perusahaan bubur kertas tersebut dalam bentuk tunai sebesar US$24 juta sebagai pembayaran pertama dari total pembelian US$57,4 juta. Sisa pembayaran, akhirnya dialihkan dalam bentuk tiga surat sanggup bayar milik APRIL dengan jumlah US$33,4 juta, dengan dua tanggal berbeda. Keterangannya adalah 23 September 1997 pada satu surat dan dua surat lainnya, tertanggal 29 September 1997.

Masalahnya, Wendy mengklaim dirinya tak menemukan satu dokumen hutang APRIL terhadap tiga kreditur lainnya, yakni PT RGM International Corporation, PEC-Tech Limited dan PT Bina Sarana Pengembang. Ketiganya diduga terafiliasi dengan Sukanto. Dia mempertanyakan mengapa terjadi perubahan pembayaran—yang semula tunai menjadi surat sanggup bayar—dalam aktivitas bisnis tersebut saat itu. Namun, inilah yang akhirnya membuat Sukanto diduga dapat menekan Barbara agar segera melunasi seluruh hutang. Ketika harga saham APRIL mencapai US$0,2 pada 2002, Sukanto—sebagai komite manajemen—menyatakan salah satu upaya untuk menyelamatkan perusahaan adalah menjual saham APRIL, yang dimiliki Polar melalui Direct Holdings Limited, kepadanya. Tujuannya, dapat membayar hutang sekaligus menghindari reputasi buruk di depan umum: keluarga Tanoto membuang saham miliknya. Ini yang kelak memudahkan akuisisi kepemilikan saham Polar oleh Sukanto. Pada 2003, APRIL akhirnya menjadi perusahaan tertutup dengan tak lagi mencatatkan sahamnya di NYSE.

“Sukanto pertama kali memutuskan untuk mendapatkan pembayaran kembali milik perusahaan kreditor, dengan skema yang akan memberinya seluruh saham APRIL milik Direct [Holdings Limited],” demikian perwakilan dari Wali, Alan Butel dalam pernyataan resminya pada Juni 2001. “Sebenarnya pada saat itu, semua orang kaget Sukanto akan melakukan hal macam ini, termasuk Wali.”

Soal  Paddington Investment Trust pula yang ingin diklarifikasi Wendy pada Mimi Hutton, September 2012. Masalahnya, perempuan tersebut kini bekerja untuk Withersworldwide, Hong Kong, fima hukum yang diduga terafiliasi dengan perusahaan Sukanto. Hutton pun menjawab Wendy dengan dingin: keterangannya akan membuatnya berkonflik.

“Saya tak bisa berpikir bahwa pintu lain menuju keadilan telah tertutup. Dalam pikiran, saya melihat perempuan yang berlari dalam hujan lebat dan terjatuh sebelum sampai ke lampu hijau,” katanya lagi. “Saya tak mempercayai Hutton memilih untuk mengkhianati papa setelah mempelajari apa yang telah terjadi selama ini.”

 

IV

SOAL PERUSAHAAN YANG  berlokasi di negara bebas pajak macam Bahamas, Bermuda dan British Virgin Islands, mengingatkan saya pada satu laporan International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), berjudul Secrecy for Sale: Inside the Global Offshore Money Maze terbitan April 2013. Salah satu isinya menyebutkan sejumlah miliuner Indonesia yang menempatkan dananya dalam negara surga pajak, guna meminimalisir jumlah pajak dan memaksimalkan keuntungan. ICIJ memaparkan sembilan dari 11 keluarga terkaya di Tanah Air memiliki lebih dari 190 trust dan perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang menempatkan dananya di tempat macam itu adalah a.l. keluarga Riady (Grup Lippo), keluarga Widjaja (Grup Sinar Mas), keluarga Sampoerna (Grup Sampoerna) dan keluarga Tanoto (RGE). Perusahaan-perusahaan itu, di antaranya berbisnis pada sektor sumber daya alam, sehingga sering menimbulkan konflik sosial.

Kesan saya, Sukanto, sang pemilik RGE, dan sejumlah perusahaan di bawahnya, sama-sama memiliki masalahnya sendiri.

Ini belum termasuk dugaan penguntitan terhadap sang keponakan saat di Singapura pada 13 Juni—23 Juni lalu. Wendy bersama keluarganya datang ke sana untuk pernikahan sepupunya, Nicholas Tanoto. Nicholas adalah anak dari paman Wendy, Rudy Tanoto. Awalnya, mereka menginap di hotel Intercontinental. Pengintaian itu dilakukan dengan cara sang pembuntut menginap pada tiga kamar masing-masing, yang berada di seberang kamar Wendy. Ada yang mengikutinya ke restoran atau pusat perbelanjaan. Ada yang masuk ke lift dengan tatapan menyeramkan. Duduk di meja makan dengan mengawasi Wendy setiap detik.

Hal ini membuat Wendy memutuskan untuk pindah hotel, Pan Pacific pada hari keempat. Ini sekaligus menguji, apakah asumsi mereka salah soal sang penguntit. Namun orang yang tinggal di seberang kamar mereka di hotel Intercontinental, justru tengah duduk di lobi hotel Pan Pacific. Wendy pun mendekati keduanya.

“Mengapa kalian mengikuti kami?”

“Hmm, aku tak tahu apa yang kau katakan.”

“Mengapa kalian tak tinggal di Intercontinental? Mengapa mengikuti kami ke Sari Pan Pacific?

“Hmm, aku tidak tahu.”

Mereka pun melaporkannya secara resmi pada polisi setempat. Aduannya adalah pengusikan secara sengaja. Ketika pemeriksaan polisi dilakukan, awalnya mereka mengaku sebagai pemandu wisata. Namun akhirnya, sang penguntit mengaku sebagai penyelidik swasta yang bekerja pada firma khusus. Saya memahami ketakutan Wendy saat itu. Bagaimana pula keheranan dia terhadap pamannya yang diduga sebagai orang yang berada di balik semua aksi pengusikan tersebut.

Tapi saya juga yakin, keluarga kecil itu tak bakal menyerah dengan yang telah mereka alami selama ini. Wendy bilang masalah ini membuat ikatan dirinya dan saudara-saudari kandungnya semakin kokoh. Tentu juga dengan sang mama, Barbara. Dalam foto mereka berdua, Wendy menyematkan tanda pagar #bestmom, #ilovemom, #lovemomforever, #alwayssupportive dan #bestchef, sebagai lambang cintanya. Tetapi, ada satu hal yang membuat saya tercekat. Harapan sungguh-sungguh Wendy yang juga sederhana: cerita yang saya tulis tentang masalah ini, dapat mengubah hidup keluarganya.

 

*KETERBUKAAN INFORMASILaporan khusus mengenai Sukanto Tanoto terbit dalam edisi cetak pada 20 Agustus 2014, dengan tiga judul terpisah. Sebagian laporan tersebut kemudian diunggah menjadi empat serial dalam situs http://www.bisnis.com pada 26 Agustus, dengan judul ‘Menelusuri Konflik Aset Keluarga Tanoto’. Pada 28 Agustus, muncul iklan bantahan dari Hermanto Tanoto mengenai konflik tersebut dan Anderson Tanoto, anak bungsu pasangan Sukanto-Tinah, mengunjungi Bisnis Indonesia untuk klarifikasi karena menganggap laporan itu minim konfirmasi. Pada 2 September, laporan daring mengenai konflik itu diganti dengan laporan acara Tanoto Foundation tentang pembagian buku, yang tak berkaitan dengan konflik  aset,  dengan Universal Resource Locator (URL) serupa. Pada 3 September, tim redaksi datang ke kantor RGE di kawasanTeluk Betung, Jakarta Pusat untuk  mendapatkan klarifikasi tambahan dan dimasukkan ke dalam blog ini. Sejak penggantian cerita, saya memohon kepada sejumlah editor terkait agar laporan ‘Menelusuri Konflik Aset Keluarga Tanoto’, kembali ditampilkan di situs http://www.bisnis.com,  dengan usul penambahan klarifikasi dari pihak RGE. Tujuannya, agar pembaca mendapatkan informasi yang lebih utuh.  Klarifikasi tambahan itu diperoleh dari hasil pertemuan tim redaksi dengan Anderson Tanoto saat di kantor Bisnis Indonesia dan kantor RGE. Laporan soal konflik aset keluarga itu tak kunjung diterbitkan walaupun sudah dipasang dalam Content Management System (CMS) dengan status pending–status lainnya adalah draft dan publish– sejak 8 Oktober pukul 12.00.

 

 

Leave a comment

Filed under BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, HUMAN RIGHTS, LAW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s