Perempuan yang Kutemui di Nagoya*

Oleh Anugerah Perkasa
1.037 words

YOUKI

Google +  

SAYA JATUH CINTA dengan Nagoya, ketika mengunjungi Jepang pertama kalinya pada akhir Mei lalu. Ini adalah kota yang menenangkan. Jalanan bersih. Mobil-mobil teratur. Pejalan kaki pun dihormati. Nagoya juga adalah tempat modern sekaligus tradisional.

Ada gedung-gedung perkantoran, hotel bintang lima, pusat elektronik tetapi juga kuil-kuil untuk memanjatkan harapan. Di kota ini pula, saya bertemu dengan perempuan Jepang generasi terkini. Namanya, Youki Harada.

Youki—memasuki paruh awal 20—berambut agak bergelombang sebahu dan punya senyum yang manis. Kami bertemu dalam satu acara yang digelar Toyota Motor Corporation (TMC) soal kampanye mobil berteknologi hibrida.

Saya diundang sebagai reporter, sedangkan Youki bekerja untuk perusahaan hubungan masyarakat, Delphys. Ini adalah firma internal untuk Toyota Singapura. Saya melihatnya bolak-balik dari hotel sampai konfrensi pers. Saat menyiapkan kertas-kertas seminar atau menjadi pengingat waktu acara dimulai. “Saya senang bekerja di Singapura, karena bisa bertemu dengan orang dari pelbagai latar belakang,” kata Youki. “Tidak seperti di sini. Anda lebih banyak bertemu orang Jepang.”

Youki memang dibesarkan dengan nilai-nilai liberal di Vancouver, Kanada. Dia terbiasa mengemukakan pendapatnya. Tiga saudara kandungnya sudah bekerja sedangkan yang paling kecil, bekerja sekaligus menyelesaikan kuliah di kota tersebut. Orangtua Youki membesarkannya dengan kultur heterogen: tradisi Jepang sekaligus keterbukaan ala Barat. Waktu kecil, dia sering mendapatkan kiriman rekaman video tentang Jepang dari neneknya namun tetap menonton film-film Walt Disney.

Kami berbincang sepanjang perjalanan menuju kembali ke hotel di dalam bus besar. Youki duduk di belakang saya dan mencondongkan badannya. Saya juga membalikkan tubuh—membuat muka kami berdekatan— untuk meresponnya. Temanya campur aduk. Dari kuliah, karir, model remaja di Jepang sampai soal lingkungan.

Ketika selesai kuliah jurusan periklanan, dia sempat bekerja di Tokyo sebagai editor konten. Namun tahun ini, adalah tahun keempatnya bekerja di Delphys. Youki seringkali memainkan ujung rambutnya saat berbicara.

“Menjadi perempuan Jepang dan bekerja di sini, saya belajar menyuarakan pendapat dengan cara sopan dan feminim,” katanya. “Awalnya frustasi, tetapi setelah belajar, itu menguntungkan buat karir di periklanan.” Saya kira Youki mewakili generasi modern perempuan Jepang, yang kian beruntung soal pendidikan.

Dalam buku Japanese Women: New Feminist Perspectives on the Past, Present and Future pada 1995, Kimi Hara menyatakan modernisasi pendidikan bagi perempuan Jepang berkembang setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945.

Walaupun demikian, masa Restorasi Meiji pada 1868, juga menjadi masa penting untuk perempuan negara tersebut. Pendidikan saat itu, demikian Hara, dipromosikan oleh kalangan misionaris Kristen yang berasal dari pelbagai Negara macam Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Restorasi Meiji mengusung tema bun-mei kaika, yang berarti peradaban dan pencerahan.

Namun di sisi lain, tujuan pendidikan bagi perempuan masa itu adalah menjadi ‘istri yang baik dan ibu yang bijak’. Tujuannya melayani para suami dan keluarga, serta memelihara sistem patriarkis.

Bagaimana dengan para pria? Hara menulis, tujuannya jelas: pendidikan dimaksudkan untuk memperkaya negara dan memperkuat bala tentara. Namun lambat laun, pendidikan di Jepang berkembang seiring merebaknya gerakan perempuan di Negara tersebut pada 1970-an.

Pendidikan perempuan memang melalui fase perjuangan yang panjang. Selain itu, buku tersebut menulis tentang realitas perempuan Jepang terkini: mengejar pendidikan dan menunda pernikahan. Tetapi bagi Youki, ada pula yang tak banyak berubah. “Saya sering menemukan jawaban yang sama, bahwa pria akan memberikan kebahagiaan dalam hidup perempuan,” kata Youki. “Berkencan dengan pria Kaukasia juga dianggap sebagai status yang tinggi.” Perbincangan semakin menarik saja.

Apa yang Youki sampaikan, saya kira, adalah pengalamannya selama ini. Menjadi perempuan Jepang, namun juga dibesarkan dalam tradisi liberal.

Baginya, sebagian perempuan di negara pulau tersebut masih mengalami hambatan untuk menjadi independen. Di satu sisi, Jepang memang kian modern, namun masih menyimpan tradisi patriarkis yang demikian berakar.

Survei the Sloan Center on Aging & Work pada Boston College pada tahun lalu menyimpulkan Jepang memang tak mengalami perubahan besar soal sistem patriarkis. Studi itu bertujuan untuk mengetahui peranan gender dalam pekerjaan dengan dua komponen utama. Perspektif peranan khusus dan tanggung jawab yang setara. Laporan itu mengungkap hasil survei pada tujuh negara yakni Amerika Serikat, Belanda, Brasil, China, India, Inggris, dan Jepang.

Peranan khusus berarti pasangan setuju dengan tugas pria untuk mencari nafkah dan perempuan mengurus rumah tangga. Sedangkan tanggung jawab yang setara adalah membagi seluruh urusan, baik nafkah dan mengurus keluarga, secara bersama- sama. Skornya terdiri dari 1—6, sebagai jumlah tertinggi. “Sejak 1950-an, partisipasi tenaga perempuan meningkat di kebanyakan negara,” kata Rucha Bhate, salah satu peneliti lembaga tersebut. “Meskipun demikian, peranan tradisional gender masih populer di sejumlah masyarakat.”

Lembaga penelitian itu menyatakan saat melakukan survei terhadap karyawan, pihaknya menemukan skor 3 untuk Jepang, sebagai negara yang setuju terhadap perspektif peranan khusus. Sedangkan untuk tanggung jawab yang setara, negara itu memiliki skor sekitar 4,5. Walaupun demikian, angka itu adalah terendah dibandingkan dengan negara lainnya.

Brasil, misalnya, memiliki angka sekitar 5,5 untuk tanggung jawab yang setara dan 1,5 untuk perspektif peranan khusus. Negara lainnya macam Amerika Serikat, Belanda, Inggris, dan India rata-rata mencapai angka sekitar 5,5 untuk kesetaraan tanggung jawab. Sedangkan untuk peranan khusus— kecuali India—rata-rata skor untuk komponen tersebut adalah sedikit di bawah angka 2. India mencapai angka hampir 2,5 sedangkan China memperoleh skor hampir 3.

Tak hanya soal itu, survei tersebut juga menemukan fakta menarik soal persepsi dominan para pria. Masyarakat maskulin konvensional di China dan Jepang, demikian laporan tersebut, memiliki nilai yang relatif lebih tinggi untuk perspektif peranan khusus.

Masing-masing sekitar 2,9 dan 3,1. Negara-negara lainnya, kecuali India, berada di kisaran di bawah angka 2. India sendiri mencapai skor sekitar 2,4. Sementara untuk skor kesetaraan tanggung jawab, China dan Jepang masing-masing memperoleh sekitar 4,9 dan 4,7, sedangkan Negara lainnya rata-rata mencapai angka 5,5. “Perspektif gender tradisional mendorong perempuan menikah, namun menempatkan pendidikan dan tujuan karir mereka di belakang kompor,” demikian Bhate.“Ini menyebabkan kesenjangan pada perempuan untuk memanfaatkan pendidikan sepenuhnya.”

Temuan dari Sloan Center on Aging & Work, saya kira, tak jauh sekali dengan apa yang terjadi di sekeliling Youki, selama bekerja dan tumbuh dengan budaya campuran. Di sisi lain, dia menginginkan perempuan Jepang yang lebih independen. Perbincangan demi perbincangan pun kami lalui selama mengikuti acara Toyota. Di dalam bus. Makan malam. Berpapasan saat di hotel. Dan terakhir, menyambungnya melalui surat elektronik.

Saya ingat hidungnya memerah ketika diserang pilek yang kian membandel di suatu sore. Atau pipinya yang merona saat diterpa sinar mentari. Tapi gangguan kecil itu, tentu saja, tak menyembunyikan senyum manisnya. “Saya harap akan bertemu perempuan yang lebih independen, yang bisa membuat perubahan,” kata Youki. “Mereka akan menjadi aset besar bagi pertumbuhan ekonomi Jepang.”.

*Laporan ini terbit pada Juli 2013

 

Leave a comment

Filed under CLIMATE CHANGE, HUMAN RIGHTS, LIFESTYLE, POLITICS, URBAN ISSUES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s