Yang Muda, Yang Berjihad?

Oleh Anugerah Perkasa

1.055 words

SAYA BERTEMU Badrul Qowim, seorang santri Pondok Pesantren Al Mukmin dalam sebuah wawancara  pada Oktober 2002 silam. Badrul adalah remaja kurus berusia 18 tahun kala itu—dan mungkin menapaki usianya di awal 30 tahun pada hari ini. Kami bertemu di salah satu ruang tamu pesantren yang berbasis  di Solo, Jawa Tengah tersebut. Kesan saya, Badrul adalah sosok muda dan militan terhadap Islam yang dipahaminya.

“Jihad adalah untuk menghilangkan kemungkaran,” katanya. “Bali tempat penuh kemungkaran. Ada orang yang telanjang di pantai dan ada diskotik.”

Badrul mengacu peristiwa Bom Bali I yang terjadi pada awal Oktober 2002. Ada sekitar 200 lebih orang menjadi korban jiwa, sedangkan 200 lebih lainnya luka-luka. Saya mencoba memahami Badrul yang tengah belajar agama di pesantren pimpinan Abu Bakar Baasyir—pendiri Jamaat Ansharut Tauhid pada pertengahan 2008 itu. Setidaknya, ada dua hal yang dipelajarinya di sana: jihad dan perang. Sejak wawancara itu, saya tak pernah mengetahui lagi kabar remaja tersebut.

Tetapi, ada perubahan besar dalam kurun waktu lebih satu dekade terakhir.

Mungkin remaja macam Badrul,  tak harus ke pesantren lagi untuk memperoleh pengetahuan agamanya pada hari ini.  Ada lompatan teknologi bernama Internet, yang memungkinkan orang mencari pengetahuan baru, termasuk soal agama. Dalam Statistik Internet Dunia, Indonesia mengalami perubahan besar dalam jumlah pengguna Internet.

Pada 2000,  hanya 2 juta pengguna Internet namun meningkat drastis  pada November 2015, yang mencapai 78 juta pengguna. Untuk tingkat Asia sendiri, Indonesia menduduki posisi keempat terbesar dalam penggunaan Internet. Ini adalah setelah China, India dan Jepang.

Internet pula yang menjadi perangkat baru menguatnya bibit-bibit ekstrimisme.

“Keterlibatan langsung  kelompok pengajian tetap penting,” demikian temuan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) pimpinan Sidney Jones. ”Pertemanan diperkuat oleh pesan Internet dan komunikasi telepon selular,”

Saya mempelajari analisis Sidney Jones, peneliti yang konsisten menyelidiki peta konflik dan ekstrimisme agama sejak 2002 hingga hari ini. Sosok remaja Badrul sendiri—dengan segala militansinya—menyeruak dalam pikiran,  setelah Jakarta diguncang bom di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari lalu.

Jones sempat bekerja  selama 10 tahun lebih untuk International Crisis Group (ICG), dan  mendirikan IPAC di Jakarta pada 2014. Dalam laporan Online Activism and Social Media Usage Among Indonesian Extremists disebutkan, para pendukung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS)—bertujuan mendirikan negara Islam di luar teritorial dua negara itu— memakai media sosial dan komunikasi telepon selular untuk berhubungan dan berkampanye. Ada Blog, Facebook, Situs, Twitter, Instagram, Youtube. Sedangkan untuk telepon pintar, perangkat yang dipakai adalah WhatsApp, Zello, dan Telegram.

IPAC juga  menemukan salah satu pendukung ISIS dalam dunia maya. Di antaranya adalah Khabar Dunia Islam—yang memiliki Fanpage di Facebook dan cerita di Blog.

Saya membuka salah satu ceritanya.

Ada  perempuan bernama Siti Khadijah atau dikenal sebagai Ummu Sabrina, yang berangkati ke Suriah pada 2014—periode awal pembentukan ISIS— bersama suami dan anaknya. Cerita itu tersebar ke sejumlah Blog, karena Blog resmi Khabar Dunia Islam tak lagi aktif. Judulnya Perjalanan Hijrah Ummu Sabrina. Ketika saya ketik judul tersebut ke dalam mesin pencari Google, terdapat 1.320 hasil dalam waktu 0,28 detik. Ada Blog yang memuat lengkap ceritanya, ada pula yang membaginya ke dalam tiga serial.

Saya pribadi tak setuju sepenuhnya soal konsep hijrah dan jihad ala keluarga Ummu Sabrina.

“Pelajar kini mendapatkan pengetahuan agamanya melalui Internet,” kata Aminuddin Syarif, Peneliti Radikalisme dari Setara Institute. “Situs-situs yang mengajarkan intoleransi justru muncul di halaman pertama.”

Pada Maret 2015, Setara Institute menggelar survei soal toleransi pada 78 SMA di Jakarta dan 38 sekolah di Bandung. Sekitar 67% responden dari total 684 orang menyatakan Internet merupakan sumber utama memperoleh informasi, sedangkan sisanya adalah melalui koran dan sosialisasi.

Terkait dengan ISIS, ada 7,2% siswa menyatakan sokongannya terhadap gerakan ekstrim tersebut. Walaupun persentasenya minim, Setara Institute mengingatkan hasil survei tersebut harus menjadi perhatian bagi pemerintah maupun masyarakat di Tanah Air.

“Persetujuan ini tidak berarti ada ketertarikan siswa untuk terlibat dalam gerakan ISIS,“ kata Aminuddin, “Namun demikian, angka persetujuan itu merupakan peringatan serius.”

Lembaga itu juga bekerja sama dengan sejumlah sekolah untuk menggelar sosialisasi soal pemahaman Islam yang inklusif. Tujuannya, mencegah radikalisme berkembang di kalangan remaja. Selain itu, kata Aminuddin, juga sebagai upaya untuk mengimbangi maraknya informasi tentang Islam yang intoleran dan penuh kekerasan—perlahan menjadi ekstrimisme.

“Inti terorisme adalah ketidakpastian,” kata Sidney Jones dalam analisisnya pada November. “Jika kita berasumsi di Jakarta tenang, dan tetap seperti itu, bisa jadi kita berada dalam kejutan yang tak menyenangkan.”

Ini tentu tak semudah membalikkan telapak tangan.

Saya sering melihat para remaja yang aktif dalam sebuah pengajian akbar melintasi jalan-jalan di Jakarta. Ada simbol-simbol ekslusif. Mulai dari pakaian, jaket hingga bendera bertuliskan bahasa Arab. Tentu, saya tak menyalahkankan kebebasan mereka berekspresi plus soal isi ceramah para ulama.

Tetapi, para remaja hari ini— seperti yang saya alami dahulu pada awal 1990—mungkin saja berada dalam tahap pencarian identitas melalui pelbagai forum tersebut.  Saya pun sempat melalui fase itu di Banjarmasin, Kalimantan Selatan— dengan salah satu tawaran menerapkan Bai’at, semacam ikrar untuk menegakkan hukum Islam. Bedanya hari ini, sumber-sumber  tentang ekskusivisme hingga jihad yang membenarkan kekerasan, kian bertebaran di Internet. Kekerasan atas nama agama, relatif berdekatan dengan ekstrimisme.

Dan teror bom di kawasan MH Thamrin, membuat saya belajar satu hal: jaringan muda dan kian ekstrim.

Ketika menelusuri jaringan Jamaah Islamiyah belasan tahun silam, saya menemui sejumlah orang di Boyolali, Solo dan Yogyakarta. Jawa Tengah sendiri dikategorikan sebagai basis teroris oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Dalam fase itu, saya belajar soal gelombang migrasi yang berniat perang ke Afghanistan pada 1980-an. Dan kini, Irak dan Suriah menjadi tempat serupa—di mana sebagian mereka berasal dari keluarga kelompok veteran Afghanistan.  Jurnal Panorama pada awal tahun lalu memaparkan sekitar 2.500 orang-orang di kawasan Asia bepergian ke Irak dan Suriah sejak 2012.

“Setelah gagal mati syahid di luar negeri dan wilayah mereka sendiri,” kata Rohan Gunaratna, Kepala International Center for Political Violence and Terrorism Research dalam jurnal tersebut,  “Veteran Asia Tenggara untuk Afghanistan, Filipina dan Indonesia berusaha untuk pergi ke Suriah dan Irak,”

Mungkin mati syahid jua—saya tak setujui sepenuhnya, yang mendorong Ummu Sabrina dan suaminya ketika memutuskan pergi ke Suriah. Atau juga anak-anak dari keluarga kelompok veteran Afghanistan lainnya. Dan terakhir, para pelaku bom MH Thamrin.  Bagi saya, koneksi peristiwa demi peristiwa teror serta jaringan Jamaah Islamiyah sampai ISIS hari ini,  relatif menebalkan dugaan makin meluasnya ekstrimisme agama, terutama di kalangan generasi muda.

Dan benih-benih kekerasan, mungkin saja sempat tumbuh, dalam pikiran serta hati remaja kurus macam Badrul Qowim, belasan tahun silam.

Leave a comment

Filed under CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, POLITICS, UNCATEGORIZED

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s