Category Archives: URBAN ISSUES

Perempuan yang Kutemui di Nagoya*

Oleh Anugerah Perkasa
1.037 words

YOUKI

Google +  

SAYA JATUH CINTA dengan Nagoya, ketika mengunjungi Jepang pertama kalinya pada akhir Mei lalu. Ini adalah kota yang menenangkan. Jalanan bersih. Mobil-mobil teratur. Pejalan kaki pun dihormati. Nagoya juga adalah tempat modern sekaligus tradisional.

Ada gedung-gedung perkantoran, hotel bintang lima, pusat elektronik tetapi juga kuil-kuil untuk memanjatkan harapan. Di kota ini pula, saya bertemu dengan perempuan Jepang generasi terkini. Namanya, Youki Harada. Continue reading

Leave a comment

Filed under CLIMATE CHANGE, HUMAN RIGHTS, LIFESTYLE, POLITICS, URBAN ISSUES

Surga Luxembourg, Suaka Jakarta

Oleh Anugerah Perkasa

1.162 words

 

KRISTOF CLERIX  MENYAJIKAN  satu paragraf rahasia dalam lembaran presentasinya di suatu siang, akhir Oktober lalu.   Ini adalah paragraf yang menuntunnya turut membongkar kejahatan perpajakan menjelang akhir 2014. Ada foto gedung perkantoran di Luxembourg, dalam lembaran berikutnya. Ada pula potret kantor PricewaterhouseCoopers (PwC), satu firma penasihat perpajakan internasional. Dalam pertemuan itu, Clerix membeberkan bagaimana dugaan kejahatan pajak dilakukan melalui Luxembourg—salah satu negara kecil di Eropa, sekaligus surga pajak di dunia.

“Hampir 340 perusahaan memiliki perjanjian rahasia dengan Luxembourg, membuat mereka dapat memotong tagihan pajak,” kata Clerix. “PwC membantu perusahaan multinasional untuk memperoleh fasilitas itu.” Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, INSURANCE, URBAN ISSUES

Seribu Langgar, Sejuta Bara

Oleh Anugerah Perkasa

2.737 words

 

 

GUSTI RIZQAN  mengunggah satu berita ke dinding Facebook miliknya 4 hari sebelum Natal, Desember lalu. Judulnya: Tokoh Muhammadiyah: Larang Ucapkan Natal, Itu Lucu. Dia berkomentar mengapa orang masih berpikiran tak terbuka ketika cendikiawan Islam saja tak mengharamkan ucapan Natal kepada kolega Kristiani.

“Tokoh NU, Muhammadiyah dan cendikiawan Islam besar lainnya tidak mengharamkan,” tulisnya saat itu. “Masih banyak saja yang berpikiran sempit #hopeless.”

Rizqan—berumur di awal 30— adalah adik saya yang tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan bekerja untuk satu kantor akuntan publik. Saya sesekali meneleponnya, namun kami jarang bertemu. Unggahan tersebut, akhirnya mendapatkan tanggapan dari Gilang Dan Galang Nady serta Fadli Ramadhan. Keduanya tak setuju dengan isi berita tersebut. Diskusi pun mengalir.

“Pemberian ucapan selamat Natal baik dengan lisan, telepon, SMS,  pengiriman kartu,“ tulis Gilang, “Berarti sudah memberikan pengakuan terhadap agama dan rela dengan prinsip-prinsip agama mereka.”

“Toleransi itu membiarkan, bukan membenarkan. Kalau Muslim ucapkan selamat Natal, coba minta Nasrani ucapkan syahadat, mau enggak mereka?” kata Fadli. “Ucapin syahadatnya disaksikan banyak orang.”

Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, POLITICS, URBAN ISSUES

September Kelabu di Indramayu

Oleh Anugerah Perkasa
3.062 words

CASUDI TERKEJUT menjawab panggilan telepon selularnya pada sore itu. Dia bersama tiga teman lainnya tengah memperbaiki rumah yang kini dijadikan bengkel. Samsudin, sang penelepon, meminta Casudi untuk segera bersembunyi karena ada penyisiran oleh gabungan aparat keamanan beserta para preman. Casudi adalah petani padi dari Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu. Dia pun bergegas menuju rumah lain—yang menjadi tempat tinggalnya—tak jauh dari bengkel. Lainnya pun bubar. Hari itu, 11 September 2013.

“Di, ada sweeping. Jangan muncul dulu,” kata Samsudin, dari ujung telepon. “Hati-hati, mereka akan datang ke basis-basis.”

Tempat tinggal Casudi berpagar bambu tipis. Ada deretan pohon kelapa. Satu sekolah dasar terletak di sebelah rumahnya. Dia pun bersembunyi di kamar dengan perasaan khawatir. Sekitar 15 menit kemudian, suara sepeda motor yang meraung mulai terdengar. Ada polisi berpakaian lengkap. Ada pula yang berpakaian bebas. Semuanya memakai sepeda motor trail. Ada yang sendiri dan berboncengan. Dari balik kamar, Casudi mengintip ulah mereka. Raungan sepeda motor pun semakin dikeraskan. Mereka berputar-putar di depan rumahnya.

“Ini rumahnya. Ya, ini rumahnya,” kata salah satu dari mereka.

Hampir 30 menit kemudian mereka beranjak pergi. Aksi penyisiran itu tak hanya selesai di rumah Casudi. Sekitar 50 orang antara lain dari aparat kepolisian, mandor dari Perum Perhutani dan preman, diduga menyisir basis-basis milik Serikat Tani Indramayu (STI) pada hari itu. Samsudin, sang penelepon sekaligus Sekretaris Jendral STI, lebih dulu diintimidasi. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, INSURANCE, LABOUR, LAW, POLITICS, URBAN ISSUES

Di Bawah Langit Karawang

Oleh Anugerah Perkasa
1.997 words

 

 

DESA PUSEURJAYA bukan sekadar tempat tinggal bagi petani tua macam Ento. Desa itu juga menjadi bagian besar sejarah hidupnya ketika memulai pekerjaannya sebagai petani, sekitar 50 tahun lalu. Usia Ento kini 70 tahun. Pekerjaannya pun tetap sama: bercocok tanam. Menghalau burung-burung pipit yang rakus memakan bulir-bulir padi. Mengusir hama lain macam keong, tikus hingga ulat pengganggu. Desa yang terletak di Kecamatan Teluk jambe Timur, Karawang itu juga menjadi saksi diam perkembangan zaman: nasib petani macam Ento yang sulit berubah. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, HUMAN RIGHTS, LABOUR, POLITICS, URBAN ISSUES

Jejak Hitam Keraton di Kulonprogo

Oleh Anugerah Perkasa
2.885 words

 

 

BUS KECIL  butut yang saya tumpangi mulai meninggalkan Terminal Giwangan, Yogyakarta pada suatu pagi di bulan Agustus.  Kursinya tak empuk. Joknya pun sobek di sana-sini. Penumpang saat itu tak lebih dari sepuluh orang. Ada yang diam saja.  Ada pula yang membaca suratkabar. Si supir  sudah menyetel musik kencang-kencang sebelum keberangkatan.  Jenisnya, lagu-lagu populer periode 1990-an:  Bintang Kehidupan dari Nike Ardilla, Hati Yang Luka  milik Betharia Sonata, hingga Suci dalam Debu dari Iklim, grup musik asal Malaysia. Di tengah musik yang menderu, saya pun memikirkan tempat tujuan kali ini: Kabupaten Kulonprogo. Di sanalah, konflik pertambangan pasir besi sejak  7 tahun lalu, masih tersisa.

Continue reading

2 Comments

Filed under CLIMATE CHANGE, HUMAN RIGHTS, LAW, POLITICS, URBAN ISSUES

Shanghai di Mata Wen

Oleh Anugerah Perkasa
1.042 words

HUJAN MULAI meninggalkan jejaknya di Shanghai pagi itu. Jalanan yang basah dan dingin. Kabut pun membuat semuanya terlihat gelap dan abu-abu. Saat itu pukul 07.00 lebih waktu Shanghai atau 1 jam lebih cepat dibandingkan dengan waktu Jakarta. Saya dan 14 wartawan Jakarta lainnya baru saja tiba di kota itu untuk sebuah undangan the Hewlett Packard (HP) Global Influencer Summit 2012 pada 9 Mei-10 Mei 2012. Ini adalah pameran plus penjelasan kepada sekitar 400 wartawan di pelbagai negara tentang produk mutakhir yang diluncurkan perusahaan teknologi tersebut. Kami juga ditemani Theresia Ellytasari, Marketing Director Personal System Group HP Indonesia. Bis pun mulai berangkat perlahan-lahan. Continue reading

Leave a comment

Filed under URBAN ISSUES

Peta Hitam dari Kebayoran Baru

Oleh Anugerah Perkasa
3.344 words

 

BUDI PRIYANTO sama sekali tak keberatan menghabiskan waktunya mengurus tanah milik Mulya Aulizar, termasuk soal merogoh kantongnya lebih dalam. Pekan terakhir Maret, dua petugas Badan Pertanahan Nasional (BPN) mendatangi lokasi properti kepunyaan adik kandungnya itu di kawasan Karet Pasar Baru Timur, Jakarta Pusat. Budi sendiri tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan. Sebulan kemudian, bekas kepala cabang bank swasta tersebut mengambil hasil pengukuran di kantor pertanahan Jakarta Pusat, seputar kawasan Abdul Muis. BPN menerbitkan ukuran luas lahan: 121 meter persegi dengan biaya resmi pelayanan Rp129.000.

Continue reading

3 Comments

Filed under CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, HUMAN RIGHTS, URBAN ISSUES

Tak Cuma Soal Real Estate

Oleh Anugerah Perkasa
1.099 words

foto real estate

 

 

SEJAK PERTENGAHAN MARET saya mulai ditugaskan meliput sektor properti. Ini adalah wilayah liputan baru setelah sebelumnya meliput sektor keuangan dan hukum, terutama menyangkut korupsi. Sejak 2005, saya bekerja untuk harian Bisnis Indonesia, suratkabar khusus bisnis yang berpusat di Jakarta. Dan bidang properti di tahun ini menjadi desk ketiga. Continue reading

6 Comments

Filed under CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, HUMAN RIGHTS, URBAN ISSUES

Cicilan Syarifuddin

Oleh Anugerah Perkasa
1.020 words

SYARIFUDDIN MELAMBAIKAN tangan sambil beranjak dari tempat duduk. Dia menawarkan jasa apakah mau diantar dengan sepeda motornya ke tempat yang diinginkan. Saya menolak dan mulai menjelaskan maksud wawancara. Syarifuddin pun menggeser tubuhnya. Kami duduk bersebelahan pada kursi kayu kecil. Continue reading

2 Comments

Filed under FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, URBAN ISSUES