Kutukan Sawit

Oleh Anugerah Perkasa
1.511 words

 

SAYA MENGHADIRI satu diskusi kecil tentang industri kelapa sawit di kawasan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan pada awal pekan lalu.  Hanya ada enam peserta plus dua penyaji presentasi. Komputer jinjing disiapkan, demikian pula proyektor. Ada kopi hangat dan air putih yang menemani. Tiga lembar fotokopi presentasi pun dibagikan. Diskusi berlangsung interaktif: pertanyaan dapat menyela di tengah-tengah pemaparan. Siang itu, hujan mulai tumpah. Butiran-butiran airnya terlihat jelas dari balik jendela.

“Bagaimana dengan nasib kelompok adat dan petani kecil?” kata saya, dalam satu kesempatan.

Selama pemaparan, saya tak melihat jelas posisi kelompok-kelompok yang selama ini menjadi korban ekspansi industri kelapa sawit. Keduanya lebih banyak bercerita soal peluang bisnis untuk industri keuangan—macam asuransi—dan pendanaan untuk perubahan iklim. Bagi saya, ekspansi kelapa sawit kian identik dengan perampasan lahan. Ini macam yang terjadi di Sumatra hingga Papua. Saat kami berdiskusi di dalam ruangan yang berpendingin, puluhan petani Jambi dan Suku Anak Dalam (SAD) masih setia berjalan kaki dari Jambi menuju Jakarta sejak pertengahan Oktober.

Continue reading

Advertisements

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, INSURANCE, LABOUR

September Kelabu di Indramayu

Oleh Anugerah Perkasa
3.062 words

CASUDI TERKEJUT menjawab panggilan telepon selularnya pada sore itu. Dia bersama tiga teman lainnya tengah memperbaiki rumah yang kini dijadikan bengkel. Samsudin, sang penelepon, meminta Casudi untuk segera bersembunyi karena ada penyisiran oleh gabungan aparat keamanan beserta para preman. Casudi adalah petani padi dari Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu. Dia pun bergegas menuju rumah lain—yang menjadi tempat tinggalnya—tak jauh dari bengkel. Lainnya pun bubar. Hari itu, 11 September 2013.

“Di, ada sweeping. Jangan muncul dulu,” kata Samsudin, dari ujung telepon. “Hati-hati, mereka akan datang ke basis-basis.”

Tempat tinggal Casudi berpagar bambu tipis. Ada deretan pohon kelapa. Satu sekolah dasar terletak di sebelah rumahnya. Dia pun bersembunyi di kamar dengan perasaan khawatir. Sekitar 15 menit kemudian, suara sepeda motor yang meraung mulai terdengar. Ada polisi berpakaian lengkap. Ada pula yang berpakaian bebas. Semuanya memakai sepeda motor trail. Ada yang sendiri dan berboncengan. Dari balik kamar, Casudi mengintip ulah mereka. Raungan sepeda motor pun semakin dikeraskan. Mereka berputar-putar di depan rumahnya.

“Ini rumahnya. Ya, ini rumahnya,” kata salah satu dari mereka.

Hampir 30 menit kemudian mereka beranjak pergi. Aksi penyisiran itu tak hanya selesai di rumah Casudi. Sekitar 50 orang antara lain dari aparat kepolisian, mandor dari Perum Perhutani dan preman, diduga menyisir basis-basis milik Serikat Tani Indramayu (STI) pada hari itu. Samsudin, sang penelepon sekaligus Sekretaris Jendral STI, lebih dulu diintimidasi. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, INSURANCE, LABOUR, LAW, POLITICS, URBAN ISSUES

Hibah Panas Hamba Allah

Oleh Anugerah Perkasa
2.552 words

 

BILLY SINDORO tahu betul risiko saat memutuskan menjadi seorang Protestan pada usia 17 tahun. Dia diusir dari rumahnya di Jalan Pemuda 126-128, Semarang bersama lima saudaranya yang memilih jalan serupa. Selama 6 bulan, mereka tinggal di Gereja Kristen Muria Indonesia, masih dalam kawasan yang sama. Sindoro bersaudara akhirnya menempati sebuah rumah bekas gudang semen di Jalan Kapuran 45, Semarang. Tapi dari bekas gudang semen ini, kecintaan mereka terhadap Tuhan meluap.

 

“Di rumah inilah Tuhan bekerja dengan dahsyat, setiap hari dipenuhi anak-anak muda yang haus akan Tuhan. Ini adalah pekerjaan Roh Kudus,” ujar Ryanto Sindoro, kakak Billy, yang memutuskan menjadi pendeta.

 

Rumah itu kian ramai. Sejumlah remaja Protestan yang pulang sekolah, menyaksikan bagaimana penginjilan dikumandangkan. Bahkan ada yang sampai tidur menginap. Mereka ingin merasakan kehadiran Tuhan. Tak terkecuali sang remaja Billy yang kian gelisah melihat praktik agamanya. Puncaknya, dia pun memprakarsai kebaktian “Malam Oikumene 1979”, dengan mengumpulkan para pelajar SMA di Semarang. Ini adalah dua tahun setelah pengusirannya dari rumah. Oikumene dikenal sebagai upaya untuk mempersatukan aliran-aliran dalam agama Nasrani serta menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

 

“Saya merasakan kesedihan melihat gereja-gereja terpecah dan saling menghakimi,” kata Billy, dalam situs http://www.30yearswalkwithjesus.com. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS

Pak Jokowi, Kembalikan Tanah Kami

Oleh Anugerah Perkasa
592 words

Presiden Jokowi yang baik,

Saya tak pernah menyangka pemuda kurus dan pendiam macam Edi Purwanto menjadi korban kekerasan di kampung halamannya sendiri.

Dusun Mekar Jaya, satu dusun kecil yang dikelilingi hutan dan jalan setapak di Jambi. Edi adalah petani muda yang ingin membantu bapaknya, mematok garis lahan mereka—yang tengah berkonflik— kala itu.

Dusun mereka, seperti kebanyakan dusun lainnya di Jambi, dikelilingi oleh pelbagai bisnis skala besar. Ada perkebunan sawit. Kertas. Atau restorasi hutan. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, HUMAN RIGHTS

Papua itu Kita, Sayang

Oleh Anugerah Perkasa
767 words

PENYUNTING GAMBAR: HUSIN PARAPAT

Ethine sayang,

Mas tak akan lupa satu perjumpaan singkat dengan Amatus Douw, pemuda asal Paniai, Papua di apartemen kecil di Melbourne, Australia pada 4 tahun silam. Amatus bertubuh gempal dan sering melucu—walaupun masa lalunya demikian pahit. Orangtuanya diduga dibunuh pada 1998, tanpa ada satu pun pelaku yang diseret ke pengadilan. Dia sendiri menjadi manusia perahu untuk mencari suaka politik hingga tiba di Queensland, yang terletak di Timur Laut Australia, pada 2006. Amatus bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Saat itu, dia juga mendapat beasiswa belajar di Melbourne.

Dan Paniai kembali menyesaki pikiran Mas hari ini. Continue reading

Leave a comment

Filed under CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, HUMAN RIGHTS, LAW, POLITICS

Menelusuri Konflik Aset Keluarga Tanoto

Oleh Anugerah Perkasa
2.584 words

 

Bisnis Indonesia

I.

JUMAT SORE ITU tak pernah dilupakan Wendy Tanoto. Bersama keluarganya, dia menunggu papanya, Polar Yanto Tanoto untuk makan malam. Ada saudaranya Lina, James dan Katherine. Wendy saat itu berusia 6 tahun. Namun, kabar yang diterima mamanya, Barbara Huang, sungguh mengejutkan. Sang papa tewas dalam kecelakaan pesawat GA 152 jurusan Jakarta—Medan.

Peristiwa tersebut terjadi pada 26 September 1997, dan menewaskan 200 lebih penumpang dan belasan awak pesawat. Selama hampir 17 tahun, semua kenangan haru tersebut tak lekang oleh waktu.

“Saya masih ingat jelas hari ketika mendengar berita itu. Itu Jumat sore biasa, ketika anak-anak mengharapkan ayahnya bergabung untuk makan malam pada pukul enam,” kata Wendy.

Kecelakaan tersebut bukan saja sebuah kehilangan besar bagi keluarga Wendy namun juga mengawali sebuah sengketa bisnis keluarga Tanoto, karena Polar Tanoto adalah adik dari Sukanto Tanoto—Tanoto bersaudara berjumlah tujuh orang. Keduanya bekerja sama saat Radja Garuda Mas (RGM) International Corporation, yang mulanya bergerak pada pengolahan kayu lapis, didirikan Sukanto pada 1967. Grup bisnis itu kelak mengubah namanya menjadi Royal Golden Eagle (RGE) pada 2009 dengan terus mengembangkan bisnis pada pengelolaan sumber daya alam. Ini macam bisnis kertas, Indorayon pada 1988 hingga  Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) pada 1994. Bisnis lainnya juga menyangkut kelapa sawit serta minyak dan gas.

Continue reading

Leave a comment

Filed under BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, HUMAN RIGHTS, LAW

Di Bawah Langit Karawang

Oleh Anugerah Perkasa
1.997 words

 

 

DESA PUSEURJAYA bukan sekadar tempat tinggal bagi petani tua macam Ento. Desa itu juga menjadi bagian besar sejarah hidupnya ketika memulai pekerjaannya sebagai petani, sekitar 50 tahun lalu. Usia Ento kini 70 tahun. Pekerjaannya pun tetap sama: bercocok tanam. Menghalau burung-burung pipit yang rakus memakan bulir-bulir padi. Mengusir hama lain macam keong, tikus hingga ulat pengganggu. Desa yang terletak di Kecamatan Teluk jambe Timur, Karawang itu juga menjadi saksi diam perkembangan zaman: nasib petani macam Ento yang sulit berubah. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, HUMAN RIGHTS, LABOUR, POLITICS, URBAN ISSUES

Kenangan Kecil dari Riam Adungan

Oleh Anugerah Perkasa
1.360 words

 

Saya tak akan bisa melupakan Desa Riam Adungan sedikit pun hingga hari ini. Desa itu terletak di Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Perjalanan melalui darat ditempuh sekitar 2 jam lebih dari Banjarmasin. Desa itu pula yang menjadi tempat pertama saya menyaksikan kawah raksasa hasil pertambangan batu bara pada 2 tahun silam. Ada truk-truk tronton yang beroperasi. Alat berat pengeruk lahan bekerja siang dan malam. Atau cekungan tanah yang terbentang luas.  Dari sana, saya memerhatikan bagaimana proses produksi batu bara diperoleh.

Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, INSURANCE

Jejak Hitam Keraton di Kulonprogo

Oleh Anugerah Perkasa
2.885 words

 

 

BUS KECIL  butut yang saya tumpangi mulai meninggalkan Terminal Giwangan, Yogyakarta pada suatu pagi di bulan Agustus.  Kursinya tak empuk. Joknya pun sobek di sana-sini. Penumpang saat itu tak lebih dari sepuluh orang. Ada yang diam saja.  Ada pula yang membaca suratkabar. Si supir  sudah menyetel musik kencang-kencang sebelum keberangkatan.  Jenisnya, lagu-lagu populer periode 1990-an:  Bintang Kehidupan dari Nike Ardilla, Hati Yang Luka  milik Betharia Sonata, hingga Suci dalam Debu dari Iklim, grup musik asal Malaysia. Di tengah musik yang menderu, saya pun memikirkan tempat tujuan kali ini: Kabupaten Kulonprogo. Di sanalah, konflik pertambangan pasir besi sejak  7 tahun lalu, masih tersisa.

Continue reading

2 Comments

Filed under CLIMATE CHANGE, HUMAN RIGHTS, LAW, POLITICS, URBAN ISSUES

Robohnya Pondok Kami

Oleh Anugerah Perkasa
1.215 words

DIMAS RAHMAT SAPUTRA asyik memainkan mobil polisi mainan di depan saya siang itu. Dia bersandar manja ke ibunya, Kasmaboti. Usianya baru 4 tahun dan masih memakai baju tidur. Saya menyodorkan kaki kanan saya untuk mengajaknya bermain. Dia menepak dengan kakinya yang mungil. Setelah bosan bermain dengan mobil-mobilan, dia meraih telepon selular ibunya, mencari keasyikan baru. Tentunya, masih bersandar di pangkuan Kasmaboti. Siang itu, 24 Desember.

Saya menemui keduanya di teras Ruang Pengaduan Asmara Nababan milik Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Lembaga itu terletak di kawasan Latuharhary, Jakarta Pusat. Kasmaboti dan Dimas, tidur dan makan seadanya, sejak 10 Desember. Mereka adalah warga Suku Anak Dalam, Jambi, yang tergusur akibat konflik lahan dengan perusahaan sawit. Ada puluhan warga lainnya di teras itu. Kebanyakan mereka beralaskan karpet dan berselimut sarung saat tidur. Ada bantal kecil. Galon air mineral. Ransel yang berserakan. Kabel listrik dan pengeras suara. Mereka juga mendirikan dapur umum. Semuanya campur-aduk.

“Anak ini melihat penggusuran,” kata Kasmaboti kepada saya. “Tak ada yang tersisa dari rumah kami, bahkan satu sendok pun tak dapat.” Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, HUMAN RIGHTS, LAW, POLITICS