Tag Archives: Korupsi

Melihat Raksasa dari Tepian

Anugerah Perkasa

627 words

 

SAYA TAK AKAN melupakan Carda, petani tua asal Indramayu, Jawa Barat dengan segala persoalannya. Dia adalah salah satu petani yang kehilangan lahan garapannya karena tergusur akibat pembangunan embung Buburgadung di kabupaten tersebut. Kami bertemu saat siang menyengat, pada Mei 2 tahun silam.  Carda usianya kini 71 tahun. Tubuhnya relatif kurus. Saya ingat ada golok yang tergantung di pinggang kirinya.

“Kalau kuwu mendukung masyarakat, tidak  mungkin ada pembangunan waduk,” tuturnya, saat itu.

Pembangunan embung Buburgadung memang bermasalah sejak awal. Para petani yang menggarap padi belasan tahun silam akhirnya digusur demi pembangunan. Kuwu atau kepala desa tak membela warganya sendiri. Mereka pun melawan. Pada  September 2013, konflik pecah. Penyisiran terjadi. Pembakaran gubuk. Penjarahan harta. Sebagian petani, menderita tekanan jiwa akibatnya. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS

Seribu Langgar, Sejuta Bara

Oleh Anugerah Perkasa

2.737 words

 

 

GUSTI RIZQAN  mengunggah satu berita ke dinding Facebook miliknya 4 hari sebelum Natal, Desember lalu. Judulnya: Tokoh Muhammadiyah: Larang Ucapkan Natal, Itu Lucu. Dia berkomentar mengapa orang masih berpikiran tak terbuka ketika cendikiawan Islam saja tak mengharamkan ucapan Natal kepada kolega Kristiani.

“Tokoh NU, Muhammadiyah dan cendikiawan Islam besar lainnya tidak mengharamkan,” tulisnya saat itu. “Masih banyak saja yang berpikiran sempit #hopeless.”

Rizqan—berumur di awal 30— adalah adik saya yang tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan bekerja untuk satu kantor akuntan publik. Saya sesekali meneleponnya, namun kami jarang bertemu. Unggahan tersebut, akhirnya mendapatkan tanggapan dari Gilang Dan Galang Nady serta Fadli Ramadhan. Keduanya tak setuju dengan isi berita tersebut. Diskusi pun mengalir.

“Pemberian ucapan selamat Natal baik dengan lisan, telepon, SMS,  pengiriman kartu,“ tulis Gilang, “Berarti sudah memberikan pengakuan terhadap agama dan rela dengan prinsip-prinsip agama mereka.”

“Toleransi itu membiarkan, bukan membenarkan. Kalau Muslim ucapkan selamat Natal, coba minta Nasrani ucapkan syahadat, mau enggak mereka?” kata Fadli. “Ucapin syahadatnya disaksikan banyak orang.”

Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, POLITICS, URBAN ISSUES

September Kelabu di Indramayu

Oleh Anugerah Perkasa
3.062 words

CASUDI TERKEJUT menjawab panggilan telepon selularnya pada sore itu. Dia bersama tiga teman lainnya tengah memperbaiki rumah yang kini dijadikan bengkel. Samsudin, sang penelepon, meminta Casudi untuk segera bersembunyi karena ada penyisiran oleh gabungan aparat keamanan beserta para preman. Casudi adalah petani padi dari Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu. Dia pun bergegas menuju rumah lain—yang menjadi tempat tinggalnya—tak jauh dari bengkel. Lainnya pun bubar. Hari itu, 11 September 2013.

“Di, ada sweeping. Jangan muncul dulu,” kata Samsudin, dari ujung telepon. “Hati-hati, mereka akan datang ke basis-basis.”

Tempat tinggal Casudi berpagar bambu tipis. Ada deretan pohon kelapa. Satu sekolah dasar terletak di sebelah rumahnya. Dia pun bersembunyi di kamar dengan perasaan khawatir. Sekitar 15 menit kemudian, suara sepeda motor yang meraung mulai terdengar. Ada polisi berpakaian lengkap. Ada pula yang berpakaian bebas. Semuanya memakai sepeda motor trail. Ada yang sendiri dan berboncengan. Dari balik kamar, Casudi mengintip ulah mereka. Raungan sepeda motor pun semakin dikeraskan. Mereka berputar-putar di depan rumahnya.

“Ini rumahnya. Ya, ini rumahnya,” kata salah satu dari mereka.

Hampir 30 menit kemudian mereka beranjak pergi. Aksi penyisiran itu tak hanya selesai di rumah Casudi. Sekitar 50 orang antara lain dari aparat kepolisian, mandor dari Perum Perhutani dan preman, diduga menyisir basis-basis milik Serikat Tani Indramayu (STI) pada hari itu. Samsudin, sang penelepon sekaligus Sekretaris Jendral STI, lebih dulu diintimidasi. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, INSURANCE, LABOUR, LAW, POLITICS, URBAN ISSUES

Hibah Panas Hamba Allah

Oleh Anugerah Perkasa
2.552 words

 

BILLY SINDORO tahu betul risiko saat memutuskan menjadi seorang Protestan pada usia 17 tahun. Dia diusir dari rumahnya di Jalan Pemuda 126-128, Semarang bersama lima saudaranya yang memilih jalan serupa. Selama 6 bulan, mereka tinggal di Gereja Kristen Muria Indonesia, masih dalam kawasan yang sama. Sindoro bersaudara akhirnya menempati sebuah rumah bekas gudang semen di Jalan Kapuran 45, Semarang. Tapi dari bekas gudang semen ini, kecintaan mereka terhadap Tuhan meluap.

 

“Di rumah inilah Tuhan bekerja dengan dahsyat, setiap hari dipenuhi anak-anak muda yang haus akan Tuhan. Ini adalah pekerjaan Roh Kudus,” ujar Ryanto Sindoro, kakak Billy, yang memutuskan menjadi pendeta.

 

Rumah itu kian ramai. Sejumlah remaja Protestan yang pulang sekolah, menyaksikan bagaimana penginjilan dikumandangkan. Bahkan ada yang sampai tidur menginap. Mereka ingin merasakan kehadiran Tuhan. Tak terkecuali sang remaja Billy yang kian gelisah melihat praktik agamanya. Puncaknya, dia pun memprakarsai kebaktian “Malam Oikumene 1979”, dengan mengumpulkan para pelajar SMA di Semarang. Ini adalah dua tahun setelah pengusirannya dari rumah. Oikumene dikenal sebagai upaya untuk mempersatukan aliran-aliran dalam agama Nasrani serta menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

 

“Saya merasakan kesedihan melihat gereja-gereja terpecah dan saling menghakimi,” kata Billy, dalam situs http://www.30yearswalkwithjesus.com. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS

Mengingat Sadat, Melihat Rasuah

Oleh Anugerah Perkasa
1.205 words

13624902001177135552

SAYA MENGENAL Anwar Sadat hampir setahun yang lalu dalam sebuah aksi  demonstrasi di Jakarta bersama para petani asal Sumatra Selatan. Sadat bertubuh gempal dan berkulit sawo matang.  Sering memakai kemeja putih dan celana jeans saat memimpin aksi unjuk rasa. Dia mengepalai Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Selatan periode 2009—2013. Sadat, saya kira, juga adalah orang yang rendah hati. Ini ditunjukkannya saat bertemu pertama kali. Continue reading

1 Comment

Filed under CLIMATE CHANGE, HUMAN RIGHTS, LAW, POLITICS