Tag Archives: petani

Cerita Kembang dari Salamjaya

Anugerah Perkasa

1.056 words

 

SAYA MENGINGAT perempuan itu tak sekadar seorang pemijat profesional. Kami bertemu pertama kali pada November lalu di pusat kesehatan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saya memilih untuk tidak menuliskan nama sebenarnya—sebut saja Kembang Wangi, karena rentan untuk pekerjaannya. Dia asal Kabupaten Subang, Jawa Barat dan berusia 26 tahun. Kulitnya kuning dengan rambut lurus melebihi bahu.

Kesan saya, Kembang adalah orang yang terbuka—selain itu, manis pula. Kami membicarakan apa pun. Dia kadang bercerita soal kampung halamannya, Desa Salamjaya, Kecamatan Pabuaran. Salah satunya soal kemiskinan.

“Banyak teman Kembang yang selesai SMA, langsung cari kerja. Kalau punya uang, mereka biasa kuliah di Bandung,” katanya. “Orang kaya di kampung dapat dihitung. Mereka punya sawah yang luas.” Continue reading

Leave a comment

Filed under CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, LABOUR, POLITICS

Melihat Raksasa dari Tepian

Anugerah Perkasa

627 words

 

SAYA TAK AKAN melupakan Carda, petani tua asal Indramayu, Jawa Barat dengan segala persoalannya. Dia adalah salah satu petani yang kehilangan lahan garapannya karena tergusur akibat pembangunan embung Buburgadung di kabupaten tersebut. Kami bertemu saat siang menyengat, pada Mei 2 tahun silam.  Carda usianya kini 71 tahun. Tubuhnya relatif kurus. Saya ingat ada golok yang tergantung di pinggang kirinya.

“Kalau kuwu mendukung masyarakat, tidak  mungkin ada pembangunan waduk,” tuturnya, saat itu.

Pembangunan embung Buburgadung memang bermasalah sejak awal. Para petani yang menggarap padi belasan tahun silam akhirnya digusur demi pembangunan. Kuwu atau kepala desa tak membela warganya sendiri. Mereka pun melawan. Pada  September 2013, konflik pecah. Penyisiran terjadi. Pembakaran gubuk. Penjarahan harta. Sebagian petani, menderita tekanan jiwa akibatnya. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS

Cermin Lembor, Cermin Kandeman

Oleh Anugerah Perkasa

979 words

SAYA BERTEMU Kornelis Anto dalam acara Panen Raya pada suatu siang, pertengahan November lalu. Kornelis adalah petani padi dari Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Topi Rea dan baju Songke dikenakannya hari itu. Menjelang tengah hari, perayaan tersebut mulai dipadati ratusan orang. Ada umbul-umbul. Tenda bagi para tamu. Spanduk berisi ucapan selamat datang.  Ada pula tujuh traktor  berjejer di pinggir jalan. Namun, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman belum juga datang.

“Kami mengharapkan dibangunnya jalan usaha tani.” katanya. “Kami harus memikul padi setengah kilometer hingga dua kilometer ke jalan raya.” Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, HUMAN RIGHTS, UNCATEGORIZED

Surat untuk Jim Yong Kim

Oleh Anugerah Perkasa

679 words

 

 

Jim yang baik,

Aku senang ketika kau bilang kabarmu baik-baik saja.   Ini kau katakan sesaat sebelum mengikuti Pertemuan Musim Semi yang disiapkan  Bank Dunia—agensi yang kau pimpin, bersama the International Monetary Fund, di Washington D.C. Kau juga antuasias menjawab pertanyaan tentang halaman baru Facebook milikmu, guna merespons rasa ingin tahu publik tentang Bank Dunia. Aku suka gaya bicaramu. Juga gurauanmu, setelah mencerap pertanyaan Pabsy Pabalan—seorang pegawai yang manis,  yang bertugas mewawancaraimu hari itu. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, INSURANCE, LABOUR

September Kelabu di Indramayu

Oleh Anugerah Perkasa
3.062 words

CASUDI TERKEJUT menjawab panggilan telepon selularnya pada sore itu. Dia bersama tiga teman lainnya tengah memperbaiki rumah yang kini dijadikan bengkel. Samsudin, sang penelepon, meminta Casudi untuk segera bersembunyi karena ada penyisiran oleh gabungan aparat keamanan beserta para preman. Casudi adalah petani padi dari Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu. Dia pun bergegas menuju rumah lain—yang menjadi tempat tinggalnya—tak jauh dari bengkel. Lainnya pun bubar. Hari itu, 11 September 2013.

“Di, ada sweeping. Jangan muncul dulu,” kata Samsudin, dari ujung telepon. “Hati-hati, mereka akan datang ke basis-basis.”

Tempat tinggal Casudi berpagar bambu tipis. Ada deretan pohon kelapa. Satu sekolah dasar terletak di sebelah rumahnya. Dia pun bersembunyi di kamar dengan perasaan khawatir. Sekitar 15 menit kemudian, suara sepeda motor yang meraung mulai terdengar. Ada polisi berpakaian lengkap. Ada pula yang berpakaian bebas. Semuanya memakai sepeda motor trail. Ada yang sendiri dan berboncengan. Dari balik kamar, Casudi mengintip ulah mereka. Raungan sepeda motor pun semakin dikeraskan. Mereka berputar-putar di depan rumahnya.

“Ini rumahnya. Ya, ini rumahnya,” kata salah satu dari mereka.

Hampir 30 menit kemudian mereka beranjak pergi. Aksi penyisiran itu tak hanya selesai di rumah Casudi. Sekitar 50 orang antara lain dari aparat kepolisian, mandor dari Perum Perhutani dan preman, diduga menyisir basis-basis milik Serikat Tani Indramayu (STI) pada hari itu. Samsudin, sang penelepon sekaligus Sekretaris Jendral STI, lebih dulu diintimidasi. Continue reading

Leave a comment

Filed under BANKING, BUSINESS DISPUTE, CLIMATE CHANGE, CORRUPTION, FINANCIAL SECTOR, HUMAN RIGHTS, INSURANCE, LABOUR, LAW, POLITICS, URBAN ISSUES

Jejak Hitam Keraton di Kulonprogo

Oleh Anugerah Perkasa
2.885 words

 

 

BUS KECIL  butut yang saya tumpangi mulai meninggalkan Terminal Giwangan, Yogyakarta pada suatu pagi di bulan Agustus.  Kursinya tak empuk. Joknya pun sobek di sana-sini. Penumpang saat itu tak lebih dari sepuluh orang. Ada yang diam saja.  Ada pula yang membaca suratkabar. Si supir  sudah menyetel musik kencang-kencang sebelum keberangkatan.  Jenisnya, lagu-lagu populer periode 1990-an:  Bintang Kehidupan dari Nike Ardilla, Hati Yang Luka  milik Betharia Sonata, hingga Suci dalam Debu dari Iklim, grup musik asal Malaysia. Di tengah musik yang menderu, saya pun memikirkan tempat tujuan kali ini: Kabupaten Kulonprogo. Di sanalah, konflik pertambangan pasir besi sejak  7 tahun lalu, masih tersisa.

Continue reading

2 Comments

Filed under CLIMATE CHANGE, HUMAN RIGHTS, LAW, POLITICS, URBAN ISSUES